Self Acceptance Part 2

 "Eh, ayam yang kemarin dikirim ke T katanya udah habis." ucap saya ke suami dalam perjalanan membeli Aqua ke Indomaret.


"Hah sebanyak itu sudah habis?"


"Iya. Katanya ayam ungkepnya enak. Anak-anak dan Ibu suka, dan T minta resepnya" ungkap saya dengan ceria karena saya senang masakan saya dipuji enak.


Saat sudah masuk lift sambil semi bercanda saya bilang "Apa aku jualan ayam ungkep aja ya? Hehehe"


Suami mengernyitkan dahi sambil berkata "Itu tuh "hobi-hobi" kamu itu. Dulu pas di Bandung bilangnya mau berkebun, padahal aku sudah mau pelur saja halaman depan. Trus berkebun gak jalan dan akhirnya dipelur juga tuh halaman depan"


Sambil tertawa-tawa saya menimpali "Iya iyaaa aku mengakui kok kalau aku gak punya hobi. Aku sudah menerima kalau aku gak punya hobi. Tapi aku belum bisa menerima masalah sosial pertemanan dan komunitas".


Seperti cerita saya sebelumnya, berkali-kali diskusi dengan suami, kesimpulan kenapa saya tidak punya teman yang sangat dekat dan tidak punya ikatan terhadap komunitas atau grup tertentu adalah karena saya adalah orang yang profesional, dingin dan kurang empati. Kata suami, saya harus menerima diri saya apa adanya. Self acceptance.


Saya menerima kalau saya memang tidak punya hobi. Tapi saya tidak menerima kalau saya tidak bisa punya teman dan komunitas. Saya merasa bahwa itu adalah sesuatu yang masih bisa diusahakan. Untuk bisa dicintai itu perlu usaha bukan? Bahkan seperti pernikahan pun butuh usaha untuk saling mengerti, memahami, mencintai agar dapat langgeng. 


Pagi ini saya sudah buka-buka portal perusahaan untuk melihat tanggal ulang tahun teman-teman satu tim. Kemarin tanggal teman terdekat di tim ulang tahun dan saya tidak (mengusahakan) ingat sama sekali. I felt terribly bad. Makanya saya pagi-pagi sudah sibuk menuliskan pengingat ulang tahun teman satu tim di google calendar. Saya memang pelupa. Dan mungkin itulah fungsi dari pengingat di kalender. Sebagai alat bantu bagi orang-orang seperti saya.


Kemudian saya pesankan makan siang untuk  teman saya, sebagai traktiran ulang tahun yang terlambat. Ternyata itu adalah hal yang mudah dilakukan, membuat saya dan yang dikirimi senang.


Saya tidak ingin menyerah masalah pertemanan dan komunitas ini. Saya ingin ketika meninggal ada yang mengingat saya sebagai orang yang baik dan care kepada orang lain.





Komentar