My pregnancy journey

2014

Saya ingin punya anak banyak, minimal tiga atau empat. Itu yang saya bilang kepada suami pada saat awal menikah. Suami tidak mau, maunya dua saja. Itu sebetulnya hanya obrolan ringan kami, saat itu tidak terlalu kami pikirkan. Toh, anak satu pun belum punya. Saat baru menikah,  kami memutuskan untuk menunda kehamilan. Kami ingin "berpacaran" dulu sebelum nanti disibukkan dengan mengurus anak. Penundaan itu hanya berlangsung empat atau lima bulan. Setelah itu kami (saya) memutuskan untuk program hamil. Sebetulnya ya kami tidak ke dokter atau ahli. Kami hanya melepas kontrasepsi (kondom) yang kami pakai. Kondom menjadi pilihan saat itu, karena yang paling mudah didapat dan tidak mempengaruhi fisiologis tubuh saya seperti kontrasepsi hormonal. Setelah melepas kontrasepsi beberapa bulan, saya tak kunjung hamil. Saya sudah kepikiran macam-macam. Jangan-jangan saya anu, jangan-jangan suami anu. Itu membuat saya semakin stress dan tidak tenang hati. Saat itu load pekerjaan saya dan suami juga sedang tinggi, jadi level stress saya semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan kelelahan fisik yang saya alami, sehingga saya drop. Saya sering merasakan sakit perut, terutama perut bagian bawah. Setelah diperiksa, ternyata saya mengalami sedikit pembengkakan ginjal dan inflamasi empedu. Kata dokter ini karena lifestyle yang kurang baik: kurang minum air, terlalu banyak makan makanan berminyak, kurang bergerak dan olahraga. Namun, ternyata dari hasil USG abdomen diketahui bahwa ada penumpukan cairan disekitar rahim sehingga saya dirujuk ke dokter kandungan. Saya sangat khawatir ini akan mempengaruhi kehamilan saya. Saat itu saya dirujuk ke salah satu dokter kandungan di Rumah Sakit Pondok Indah. Dokternya sudah senior, orang Sunda, baik. Kata dokter tidak apa-apa, kemungkinan tidak akan mempengaruhi kehamilan. Gaya dokter yang santai membuat saya lebih tenang. Saya diberi obat tetapi ternyata setelah pengobatan selesai, masih ada cairan sehingga saya harus melakukan fisioterapi. Fisioterapi yang dilakukan yaitu penyinaran di perut saya selama 15 menit menggunakan sinar (saya lupa jenis sinarnya apa). Itu dilakukan sebanyak delapan kali. Alhamdulillah setelah fisioterapi, cairan tersebut hilang sepenuhnya. Setelah itu saya dan suami tidak terlalu memikirkan program kehamilan karena fokus kami saat itu adalah kesehatan (saya dan suami) dulu.

Atas izin Allah, Desember 2014 (1 tahun 1 bulan setelah saya menikah) saya hamil. Jumat pagi, hasil tes urin saya positif. Alhamdulillah. Kami bahagia juga deg-deg an. Qadarullah, di hari yang sama (siang nya), saya mengalami pendarahan. Saya panik dan langsung diantar Bu Bos saya ke rumah sakit terdekat di Bintaro. Beliau menemani terus sampai suami datang. Saya diminta untuk cek lab urin dan berkonsultasi dengan dokter di sore harinya. Hasil tes urin saya positif, tapi hasil USG tidak menunjukkan apapun. Tidak ada kantung yang terlihat di rahim. Dokter bilang ada dua kemungkinan, bisa memang kantungnya belum terbentuk atau saya hamil di luar kandungan. Untuk memeriksa lebih detail harus dilakukan USG transvaginal, yang saat itu tidak berani dokter lakukan karena takut memperparah pendarahan saya. Yang bisa dilakukan saat itu hanya menunggu dan saya diresepkan obat penguat kandungan. Penjelasan dokter yang tidak menenangkan dan terkesan galak membuat saya sangat stress. Saya tidak bisa berpikir apa-apa dan hanya bisa menangis. Suami saya memutuskan untuk mencari second opinion karena khawatir kalau saya ternyata hamil di luar kandungan. Pilihan kami jatuh ke dokter kandungan sebelumnya di RSPI. Senin kami datang dan menceritakan kondisi saya dan kekhawatiran kami. Beliau cek memang tidak ada kantung, bahkan saat dicek dengan USG transvaginal. Kesimpulannya, tidak ada kantung dimanapun baik di rahim atau di luar rahim. Dokter sampai bilang "mungkin tidak hamil mba", sampai akhirnya saya diminta cek beta HcG yang mengukur kadar HCG darah (diketahui mmol nya) untuk mengetahui kehamilan lebih akurat. Hasilnya positif. Jadi tiga hasil cek kehamilan menyatakan saya positif hamil, namun tidak ada kantung kehamilan apapun. Saya diminta kontrol lagi minggu depan sambil meneruskan penguat rahim.

Atas izin Allah juga kandungan saya tidak kuat. Belum genap seminggu sejak ke dokter di RSPI, kandungan saya luruh. Padahal saya sudah bedrest dan minum penguat rahim. Sakitnya lebih sakit daripada sakit saat menstruasi. Itu mirip dengan sakit kontraksi melahirkan. Saya kontrol lagi ke dokter dan dokter meminta menunggu proses peluruhan selesai. Saya tidak diberikan obat peluruh. Seminggu kemudian, dilakukan pengecekan dan rahim saya sudah bersih sehingga tidak perlu tindakan kuret. Saya diminta menunggu setidaknya tiga atau empat bulan sebelum saya program hamil lagi. Saya bahkan menunda lebih lama, sampai enam bulan sebelum kami memutuskan melepas kontrasepsi.

2015

Kali ini saya sudah tidak di perusahaan yang sama. Saya pindah ke salah satu perusahaan farmasi multinasional di daerah Simatupang. Saya senang sekali bekerja di sini. Perusahaannya bagus dan sesuai dengan nilai-nilai yang saya anut. Pekerjaan sama banyaknya tapi less stress. Nilai plus nya lagi, setiap bulan ada pengajian yang koordinatornya adalah departemen kami (regulatory affairs). Setiap bulan ramadhan, selama 2 minggu ada pengajian yang diadakan oleh salah satu perusahaan oil and gas di komplek perkantoran kami. Ustadz yang diundang dan materi yang disampaikan bagus-bagus. Saya tenang hati dan rileks saat bekerja di sini.

Di kantor inilah saya hamil kedua. Alhamdulillah. Senang, gak enak, dan galau. Itu yang saya rasakan saat itu. Senang karena alhamdulillah saya hamil kembali. Gak enak karena baru masuk kerja kok sudah hamil dan dalam 9 bulan kedepan akan cuti melahirkan. Galau karena saat itu suami sudah dipastikan akan pergi melanjutkan studi ke luar negeri.


Komentar