My Love, You Know Me so Well

August 2017

Bismillah,
Dulu, waktu saya masih gadis dan bahkan saat awal menikah saya selalu bilang pada diri sendiri (dan suami) kalau saya itu pas punya anak maunya tidak bekerja atau bekerja tapi fleksibel supaya bisa mengurus anak dan suami. Saya tidak ingin anak saya diasuh orang lain sehingga jadi lebih dekat kepada pengasuh daripada saya dikarenakan saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar (bekerja). Selain itu, saya tidak merasa aman menitipkan anak ke orang lain. Padahal ya, waktu itu anak nya pun belum ada heuheu. Mungkin yang mendasari pikiran saya adalah banyaknya berita tentang pengasuh yang tidak amanah, tidak care kepada anak dan yang lebih parah menganiaya anak. Kalaupun dapat pengasuh yang amanah, ada anak yang menjadi lebih dekat kepada pengasuhnya dibanding kepada ibunya. Padahal kenyataannya, ada juga sih yang walaupun ibunya wanita karir yang menghabiskan hampir 12 jam di luar rumah, anak tetap dekat dengan ibunya dan tetap menjadi anak sholeh sholehah. Well, at that time I didn't know better about it (also about myself).

Saat saya bilang tidak mau bekerja kalau sudah punya anak, suami mengiyakan dan mendukung. Alhamdulillah saya dikaruniai seorang anak laki-laki pada tahun 2016. Alhamdulillah saya sempat merasakan dua bulan menjadi ibu bekerja yang mempunyai bayi. Luar biasa sekali loh wanita karir itu, tanpa mengesampingkan luar biasanya ibu rumah tangga karena saya pun sekarang adalah ibu rumah tangga. Both stay-at-home mom and working mom are amazing!

Saya ingat saat masih bekerja setelah melahirkan, setiap hari saya berikhtiar memompa ASI di kantor agar anak saya dapat terpenuhi kebutuhannya. Saat itu suami saya tidak ada karena sedang studi di UK, alhamdulillah saya masih ditemani mama. Setiap hari saat istirahat saya pulang ke rumah untuk menyusui anak saya. Setiap saya dinas keluar kantor, saya selalu membawa cooler bag yang berisi pompa, es dan botol susu. Ya, walaupun di luar kantor saya tetap memompa ASI. Dan ini bukan saya saja, hampir semua new mom yang saya kenal melakukan hal yang sama. Makanya luar biasa kan? Sama luar biasanya dengan perjuangan ibu rumah tangga. Apapun peranmu mom, you're the best!

Baydewey, saya bukan mau membahas itu sebenarnya. Balik lagi ke topik awal soal keinginan saya untuk jadi stay-at home mom and wife. Alhamdulillah setelah dua bulan terlalui, cita-cita saya tercapai. Saya jadi ibu rumah tangga dan menyusul suami ke UK. Saya senang karena bisa berkumpul dengan suami lagi. Long Distance Marriage (LDM) itu sungguh menyiksa huhu. Ternyata, menjadi ibu rumah tangga itu perjuangannya luar biasa. Apalagi sebelumnya saya adalah wanita karir yang tidak pernah absen bekerja. Sungguh sulit sekali menyesuaikan diri pada awalnya. Sulitnya itu bukan pada peran dan pekerjaan sebagai IRT (a.k.a beres-beres, masak, mencuci, ngurus anak dan suami), tapi lebih kepada kurangnya personal development yang saya rasakan. Saya merasa kurang diapresiasi. Saya merasa kurang berkembang. Saya bahagia tapi tidak sempurna. Saya merasa ada sesuatu yang salah. Saya merasa tidak produktif (walaupun saya setiap hari sibuk sekali dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak). Saya bosaaaaan. 

Akhirnya saya curhat kepada suami. Saya bilang kalau saya bosan. Suami saya malah tertawa. Lho?

Jadi ternyata, waktu dulu saya bilang ke suami kalau saya mau ngurus anak sama suami saja, beliau mengiyakan tapi di dalam hati berpikir kalau saya itu tidak cocok menjadi stay-at-home mom. Suami saya mengenal karakter saya yang mudah bosan, aktif, berdedikasi dan senang bekerja, senang ketika diapresiasi di pekerjaan, senang mengembangkan diri, sehingga tidak cocok kalau hanya di rumah. Selain itu, beliau menyayangkan kalau kelebihan-kelebihan yang saya miliki tidak dimanfaatkan. Dan yang terakhir, beliau ingin saya mandiri. Bukan berarti saya harus bekerja mencari nafkah, tapi untuk mempersiapkan the worst case jika nanti beliau dipanggil duluan oleh Allah, saya bisa menghidupi diri sendiri. Yes, my husband is really logical and knows me so well. Thank you love for your understanding!

Tentang pencarian jati diri, tentang self-acceptance akan saya ceritakan lain waktu. Hehehe.


Komentar