Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Self Acceptance Part 2

 "Eh, ayam yang kemarin dikirim ke T katanya udah habis." ucap saya ke suami dalam perjalanan membeli Aqua ke Indomaret. "Hah sebanyak itu sudah habis?" "Iya. Katanya ayam ungkepnya enak. Anak-anak dan Ibu suka, dan T minta resepnya" ungkap saya dengan ceria karena saya senang masakan saya dipuji enak. Saat sudah masuk lift sambil semi bercanda saya bilang "Apa aku jualan ayam ungkep aja ya? Hehehe" Suami mengernyitkan dahi sambil berkata "Itu tuh "hobi-hobi" kamu itu. Dulu pas di Bandung bilangnya mau berkebun, padahal aku sudah mau pelur saja halaman depan. Trus berkebun gak jalan dan akhirnya dipelur juga tuh halaman depan" Sambil tertawa-tawa saya menimpali "Iya iyaaa aku mengakui kok kalau aku gak punya hobi. Aku sudah menerima kalau aku gak punya hobi. Tapi aku belum bisa menerima masalah sosial pertemanan dan komunitas". Seperti cerita saya sebelumnya, berkali-kali diskusi dengan suami, kesimpulan kenapa saya ...

It's getting closer

12 Juli 2021 Kemarin saya mendapat kabar bahwa sepupu yang tinggal di dekat sini positif covid, sekeluarga. Awalnya yang positif adalah mertuanya. Mencari RS qadarullah sulit sekali. Akhirnya memutuskan dirawat di rumah saja oleh sepupu dan suaminya berbekal tabung oksigen yang biasa dipakai untuk ikan dan oksigen generator yang dipinjamkan dari teman yang ibunya beberapa waktu lalu terinfeksi covid juga. Alhamdulillah kondisi Ibu sekarang stabil walaupun saturasi oksigen masih naik turun. Saya merasa sedih dan stress mendengar berita tersebut. Covid sudah berada sangat dekat.  Hari ini, saya mendengar teman satu geng ketika kuliah pun sekeluarga positif covid. Padahal, selama bulan Juni kemarin tidak pernah keluar rumah. Saya semakin ngeri karena banyak orang yang merasa tidak kontak dengan siapapun dan menerapkan prokes ketat tetap saja bisa terinfeksi covid entah lewat apa dan dari mana. Dari enam orang anggota geng, empat sudah terpapar covid. Dua diantara yang tidak terinfeksi...

Self Acceptance

  10 Juli 2021 Saya suka iri sama orang-orang yang bisa banyak teman dekat, bisa aktif dan dikenal di komunitas, being acknowledge as part of community or group, has a sense of belonging to a particular grou p. I have been discussing it with hubby over and over again. This always leads to a conclusion: I am a professional, cold person, with less empathy. I thought that I did not try harder. To be part of a community. To reach people. To be closed to people. The relationships I have, always built on professionalism; means, I would likely reach people or being involved in a group if I have something I need from them. If I do not have any more business with them, I would just completely vanish from their life. It is sad. Truly. I am sad. I always ask, what should I do to change that? I want to have a genuine relationship with people, really, where I could stay in contact with them even when we are away from each other. I want to have friends that care for me and look for me when I am ...

Meninggal dan Surga

  8 Juli 2021 Down. Berita duka berdatangan dari berbagai arah, dari teman, keluarga kerabat teman, tokoh publik. Di grup Whatsapp banyak yang mencari RS dengan ventilator maupun obat-obatan karena sulit ditemukan. Fasilitas kesehatan dan pendukungnya sudah kewalahan. Ini berbeda dari tahun lalu. Orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak percaya Covid-19, sekarang baru menyadari bahwa ini nyata.  Sungguh hanya kepada Allah kita akan kembali. Semua yang bernyawa akan meninggal. Aim bertanya, meninggal itu apa? Saya jawab, meninggal itu saat kita kembali ke Allah Sang Pencipta. Ruh yang ada di dalam raga akan dipanggil kembali oleh-Nya. Kalau meninggal, tidak akan pernah bertemu lagi di dunia. Tapi, kalau kita baik maka akan dikumpulkan kembali dengan orang tercinta di Surga. Surga itu apa? Ada dimana? Surga itu tempat kita kembali (Aamiin). Our forever home . Surga itu disana (sambil menunjuk ke atas). Jadi berarti kita tidak tinggal di rumah? Aim tidak mau tinggal di luar angk...

My pregnancy journey

2014 Saya ingin punya anak banyak, minimal tiga atau empat. Itu yang saya bilang kepada suami pada saat awal menikah. Suami tidak mau, maunya dua saja. Itu sebetulnya hanya obrolan ringan kami, saat itu tidak terlalu kami pikirkan. Toh, anak satu pun belum punya. Saat baru menikah,  kami memutuskan untuk menunda kehamilan. Kami ingin "berpacaran" dulu sebelum nanti disibukkan dengan mengurus anak. Penundaan itu hanya berlangsung empat atau lima bulan. Setelah itu kami (saya) memutuskan untuk program hamil. Sebetulnya ya kami tidak ke dokter atau ahli. Kami hanya melepas kontrasepsi (kondom) yang kami pakai. Kondom menjadi pilihan saat itu, karena yang paling mudah didapat dan tidak mempengaruhi fisiologis tubuh saya seperti kontrasepsi hormonal. Setelah melepas kontrasepsi beberapa bulan, saya tak kunjung hamil. Saya sudah kepikiran macam-macam. Jangan-jangan saya anu, jangan-jangan suami anu. Itu membuat saya semakin stress dan tidak tenang hati. Saat itu load pekerjaan say...

My Love, You Know Me so Well

August 2017 Bismillah, Dulu, waktu saya masih gadis dan bahkan saat awal menikah saya selalu bilang pada diri sendiri (dan suami) kalau saya itu pas punya anak maunya tidak bekerja atau bekerja tapi fleksibel supaya bisa mengurus anak dan suami. Saya tidak ingin anak saya diasuh orang lain sehingga jadi lebih dekat kepada pengasuh daripada saya dikarenakan saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar (bekerja). Selain itu, saya tidak merasa aman menitipkan anak ke orang lain. Padahal ya, waktu itu anak nya pun belum ada heuheu. Mungkin yang mendasari pikiran saya adalah banyaknya berita tentang pengasuh yang tidak amanah, tidak care kepada anak dan yang lebih parah menganiaya anak. Kalaupun dapat pengasuh yang amanah, ada anak yang menjadi lebih dekat kepada pengasuhnya dibanding kepada ibunya. Padahal kenyataannya, ada juga sih yang walaupun ibunya wanita karir yang menghabiskan hampir 12 jam di luar rumah, anak tetap dekat dengan ibunya dan tetap menjadi anak sholeh sholehah. Well, ...