Obstacles in pursuing my dream...
Sebagai seorang lulusan apoteker dari sekolah farmasi berbasis pharmaceutical science and technology, ketika lulus saya tidak pernah sama sekali berpikir untuk bekerja di apotek. Alasannya? Karena gajinya kecil. Sedari muda, saya adalah orang yang realistis. Memiliki apotek (sebagai PSA) mungkin iya, tapi tidak dalam waktu dekat setelah lulus. Setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda. Untuk saya yang waktu itu baru lulus, prioritasnya adalah mencari pekerjaan dengan gaji lumayan dan jenjang karir yang oke. Oleh karena itu, saya selalu fokus mencari kerja ke industri farmasi terutama di Jakarta. Menurut saya (waktu itu), industry is the only way to do this. Maklum, masih freshgrad dan tidak tau apa-apa tentang seluk beluk dunia kerja. No offense, bukan berarti menjadi apoteker di apotek itu gajinya kecil dan karirnya tidak oke, itu relatif.
Pembimbing saya saat kerja praktek di industri mengatakan saya mempunyai analytical thinking dan problem solving yang sangat baik. Oleh karenanya saya termotivasi bekerja di R&D, walaupun akhirnya selama lima tahun terakhir saya bekerja sebagai Regulatory Affairs. Ketika wawancara kerja, saya ingat ada pertanyaan "Apa rencana masa depan anda?" dan saya spontan menjawab kalau dalam 5 atau 10 tahun ke depan saya ingin bekerja di industri sambil mengumpulkan modal dan merencanakan akan membangun usaha, seperti apotek. Tetapi sejujurnya, ketika bekerja saya sepertinya lupa dengan hal tersebut. Saya menjalani hari-hari dengan biasa saja sebagai seorang pekerja kantoran, tanpa visi yang terarah dan tertarget untuk membuat apotek.
Ketika saya menikah, suami mendorong saya untuk membuat apotek. Selain karena latar belakang pendidikan saya, juga agar kalau nanti punya anak bisa fleksibel mengurus keluarga sambil bekerja. Beliau mengatakan itu dari awal kami menikah (4 tahun lalu). Saya selalu mengiyakan, tapi dalam hati sebenarnya masih banyak keraguan dan terutama "kemalasan" untuk bergerak dari zona nyaman sebagai wanita karir. Sangat sulit rasanya untuk melepaskan kenyamanan fasilitas yang saya dapatkan waktu itu: take-home pay yang (menurut saya) lumayan besar, asuransi kesehatan yang sebagian besar dicover perusahaan (BPJS plus asuransi swasta/reimburse), personal and career development dan sebagainya. Intinya, I was happy with my life at that time. Why should I bother to walk away from a steady long-term job for something unpredictable like bulding a business?. It is indeed scary. Saya berpikir saya akan rela melepaskan pekerjaan ini hanya kalau nanti beralih menjadi ibu rumah tangga saja.
Qadarullah, Allah mengabulkan. Saya sekarang adalah ibu rumah tangga, full time. Saya pikir akan mudah, tetapi transisi ini sangaaaaat sulit. Bukannya saya tidak bahagia menjadi ibu rumah tangga, tetapi ada yang hilang dari diri saya. Saya bahagia bisa melihat tumbuh kembang anak dari dekat tetapi saya merasa kurang diapresiasi, merasa tidak gaul, merasa tidak ada personal development. Karena sedang di negeri orang dan punya bayi yang masih kecil dan waktu itu winter, saya jarang keluar. Itulah yang membuat saya stress. Saya curhat kepada suami dan beliau malah menertawakan saya. Kata suami, saat dulu saya bilang mau jadi ibu rumah tangga saja beliau mengiyakan tapi dalam hatinya berpikir sepertinya tidak mungkin orang seperti saya akan cocok untuk menjadi full-time housewife. Beberapa bulan kemudian keadaan saya membaik, karena saya mengikuti beberapa online course dari beberapa universitas ternama di dunia. Ini gratis. Topiknya bermacam-macam dari yang topik kedokteran, farmasi, bahasa, bisnis, teknologi. Kemudian saya juga meminta suami meminjam beberapa buku farmasi ke perpustakaan universitas, walaupun tidak saya baca tuntas juga karena sibuk dengan berbagai macam hal. Dari situ, suami malah menyuruh saya kuliah saja. Kalau kuliah full-time master tidak memungkinkan sekarang, karena anak masih kecil. Selain itu, master di UK umumnya 150 SKS yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun. Jadi kalau mengambil full-time saya akan sangaaat sibuk. Oleh karenanya, saya mencari kuliah yang distance learning alias online. Ada beberapa pilihan jurusan, tapi suami menyarankan agar saya mengambil jurusan yang mata kuliahnya bisa berguna untuk masa depan saya. Entah saya mau melanjutkan karir di industri ataupun bisnis apotek. Saya memilih International Health Management and Leadership. Kuliahnya akan dimulai insyaAllah September tahun ini.
Saya sudah bercerita panjang lebar tidak karu-karuan begini haha. Nah, sebenarnya saya mau menceritakan titik awal kenapa saya mau bisnis apotek. Singkatnya, saya ingin terus berkarya dan mengembangkan diri tapi tetap ingin memiliki waktu fleksibel untuk mengurus keluarga. Jadi, saya memahami sekarang bahwa opsi bekerja kantoran tidak mungkin. Opsi hanya menjadi ibu rumah tangga saja pun tidak mungkin. Saya sudah mengalami kedua-duanya. Wanita karir dan ibu rumah tangga. I'd like to choose in between. Saat saya menjadi full-time housewife saya jadi punya banyak waktu untuk berpikir dan menata dan merencanakan hidup saya ke depan. Bulding a pharmacy is my goal now.
Dari cerita-cerita saya di atas, hambatan yang paling besar untuk memulai bisnis apotek versi saya adalah:
- Niat. Niat yang setengah-setengah menurut saya tidak akan pernah berujung baik. Orang akan cenderung untuk berhenti di tengah jalan ketika menemui kesulitan. Dan yang paling parahnya, bahkan dengan niat yang setengah-setengah kita tidak akan memulai eksekusi apapun (seperti pengalaman saya 4 tahun lalu).
- Keluar dari zona nyaman. Tidak ada jalan yang mudah untuk melalui ini. Pikirkanlah keputusan kita dengan matang dan logis dan juga jangan mengabaikan insting kita.
- Kesempatan.
Saya pikir saya sudah melalui ketiga hal di atas. Hambatan lainnya sebagian merupakan hambatan teknis dan hambatan yang mungkin akan saya hadapi ketika fase awal bisnis:
- Lokasi yang tepat. Saya sudah mempunyai gambaran lokasi, namun belum tentu layak dan tepat dijadikan apotek.
- Modal tambahan (jika ingin membeli tempat, bukan menyewa).
- Business plan dan feasibility study. Saya tuliskan sebagai hambatan karena saya belum punya gambaran bagaimana membuat dua hal ini.
- Membangun tim yang solid. Saya sadari ini akan sulit terutama karena saya belum pernah mengatur sebuah tim dimana saya menjadi bos (leader). Pun untuk orang yang mempunyai pengalaman managemen, memilih tim yang tepat untuk startup bisnis akan melelahkan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dan mencari kandidat yang cocok dengan kriteria kita tidak mudah.
- Menjadi kreatif dan visioner. Agar sebuah bisnis bisa bertahan, saya pikir butuh sebuah inovasi dan terobosan-terobosan. Tentu saja ini dimaksudkan agar kita mempunyai competitive advantages dan nilai lebih dari kompetitor sehingga pelanggan lama tetap loyal dan bermunculan pelanggan baru. Saya sangat awam dalam hal perbisnisan sehingga hal ini harus saya asah.
- Decision-making. Mungkin ini salah satu hal sulit yang akan saya hadapi ketika bisnis sudah berjalan. Dari pengambilan keputusan kecil atau bahkan yang akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak dan keberjalanan perusahaan. Saya akan menghadapi puluhan mungkin ratusan (berlebay) tiap harinya. Untuk pemula, ini bisa menyebabkan stress berat dan capek kalau tidak di-manage dengan baik.
Well, hambatan-hambatan ini hanya (hanya!!?) perlu dilalui. Setelah berlalu, (mungkin) tidak akan menjadi hambatan lagi. Saya pikir yang namanya hambatan itu semacam ujian naik tingkat. Jadi, setelah terlalui, we'll be a better person hopefully.
Semoga apapun hambatan saya dan teman-teman apoteker lain yang mempunyai mimpi sama membangun bisnis apotek, semua hambatan dan kesulitannya dihilangkan oleh Allah SWT. Semoga di ujung jalan itu ada kebahagiaan dan kesuksesan. Semua akan indah pada waktunya. Aamiin.
Komentar
Posting Komentar